Tulisan Tentang Manusia dan Kebudayaan
>> Sunday, July 8, 2012
Mama ngga suka kamu bergaul dengan orang pribumi!” ucap nyokap gua ketika gua menghempaskan tubuh di sofa yang ada di ruang keluarga.
Gua hanya diam. Lagi dan lagi mama
mempermasalahkan sesuatu yang menurut gua bukan sebuah masalah apa lagi
sebuah malapetaka yang sangat berbahaya.
“Ma… Kenapa sih mama harus melihat dan menilai seseorang dari sukunya?” gua bertanya dengan penuh hati-hati sambil menatapnya.
“Pokoknya mama ngga suka. Titik!” Balasnya lalu meninggalkan gua sendiri.
Ah… Mama gua masih menyimpan dendam yang berbalut sebuah kemarahan.
Apa lagi dengan salah satu contoh kerusuhan rasial yang paling dikenang
masyarakat Tionghoa Indonesia yaitu Kerusuhan Mei 1998. Pasti kita
semuanya udah tau tentang peristiwa ini.Pada kerusuhan ini banyak toko-toko dan perusahaan-perusahaan dihancurkan oleh amuk massa, terutama milik warga Indonesia keturunan Tionghoa. Konsentrasi kerusuhan terbesar terjadi di Jakarta, Bandung, dan Solo. Terdapat ratusan wanita keturunan Tionghoa yang diperkosa dan mengalami pelecehan seksual dalam kerusuhan tersebut. Sebagian bahkan diperkosa beramai-ramai, dianiaya secara sadis, kemudian dibunuh. Dalam kerusuhan tersebut, banyak warga Indonesia keturunan Tionghoa yang terbunuh, terluka, mengalami pelecehan seksual, penderitaan fisik dan batin serta banyak warga keturunan Tionghoa yang meninggalkan Indonesia.
Sampai bertahun-tahun berikutnya Pemerintah Indonesia belum mengambil tindakan apapun terhadap nama-nama besar yang dianggap provokator kerusuhan Mei 1998. Bahkan pemerintah mengeluarkan pernyataan berkontradiksi dengan fakta yang sebenarnya yang terjadi dengan mengatakan sama sekali tidak ada pemerkosaan massal terhadap wanita keturunan Tionghoa disebabkan tidak ada bukti-bukti konkret tentang pemerkosaan tersebut.
Sebab dan alasan kerusuhan ini masih banyak diliputi ketidakjelasan dan kontroversi sampai hari ini. Namun demikian umumnya orang setuju bahwa peristiwa ini merupakan sebuah lembaran hitam sejarah Indonesia, sementara beberapa pihak, terutama pihak Tionghoa, berpendapat ini merupakan tindakan pembasmian orang-orang tersebut.
Gua seharusnya benci dengan mereka yang menamakan diri mereka kaum pribumi. Gua seharusnya memiliki kepahitan yang dalam. Tapi gua ngga melakukannya. Gua memilih mengampuni dan melupakan semuanya. Tapi gua bingung kenapa gua tetap saja menjadi sosok yang ngga dianggap sebagai orang Indonesia! Kalo mengingat kejadian Mei 1998, hati gua rasanya ingin hancur berkeping-keping.
Gua masih ingat kerusuhan mei 1998 yang merupakan kerusuhan yang terjadi di Jakarta pada 13 Mei - 15 Mei 1998 dan juga terjadi di beberapa daerah lain. Kerusuhan ini diawali oleh krisis finansial Asia dan dipicu oleh tragedi Trisakti di mana empat mahasiswa Universitas Trisakti ditembak dan terbunuh dalam demonstrasi 12 Mei 1998 Elang Mulya, Hafidin Royan, Hendriawan Sie danHery Hartanto, empat Mahasiswa Trisakti, Jakarta yang gugur dalam Tragedi Trisakti pada tanggal 12 Mei 1998.
Banyak toko-toko dan
perusahaan-perusahaan dihancurkan oleh amuk massa, terutama milik warga
Indonesia keturunan Tionghoa. Ratusan wanita keturunan Tionghoa yang
diperkosa dan mengalami pelecehan seksual dalam kerusuhan tersebut.
Sebagian bahkan diperkosa beramai-ramai, dianiaya secara sadis, kemudian
dibunuh. Dalam kerusuhan tersebut, banyak warga Indonesia keturunan
Tionghoa yang meninggalkan Indonesia. Tak hanya itu, seorang aktivis
relawan kemanusiaan yang bergerak di bawah Romo Sandyawan, bernama Ita Martadinata Haryono,
yang masih seorang siswi SMU berusia 18 tahun, juga diperkosa, disiksa,
dan dibunuh karena aktivitasnya. Ini menjadi suatu indikasi bahwa kasus
pemerkosaan dalam Kerusuhan ini digerakkan secara sistematis, tak hanya
sporadis.
Amuk massa ini membuat para pemilik toko
di kedua kota tersebut ketakutan dan menulisi muka toko mereka dengan
tulisan “Milik pribumi” atau “Pro-reformasi”. Hal yang memalukan ini
mengingatkan seseorang kepada peristiwa Kristallnacht di Jerman pada tanggal 9 November1938 yang menjadi titik awal penganiayaan terhadap orang-orang Yahudi dan berpuncak pada pembunuhan massal atas mereka di hampir seluruh benua Eropa oleh pemerintahan Jerman Nazi.
Waktu itu gua masih 10 tahun. Masih
duduk di bangku Sekolah Dasar. Gua tidak akan pernah lupa wajah koko,
cici dan papa gua yang menjerit minta tolong. Dari balik jendela kamar
gua melihat mereka dihabisi tanpa belas kasihan. Cici gua ditarik lalu
ditelanjangi dan diperkosa secara bergilir! Sementara koko dan papa gua
yang tak berdaya diikat didalam mobil yang kemudian dibakar. Ketiganya
meninggal dunia dengan sadis ketika hendak masuk ke dalam rumah. Gua
melihat wajah mama hanya menangis.
Toh, yang menjadi korban bukan hanya
keturunan Tionghoa saja. Ada juga tuh toko, rumah atau mobil milik kaum
pribumi yang dirusak, dijarah atau dibakar.
Satu hal yang pernah papa gua ajarkan ke
gua adalah “jangan membalas kejahatan dengan kejahatan dan kasihi
musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu serta berbuatlah
baik kepada orang yang membenci kamu.”
Itu alasan kenapa setelah tamat SMP, gua
memutuskan untuk masuk ke SMA Negeri. Meski awalnya, mama tidak setuju.
Setiap kali gua dipanggil “si mata sipit” atau “si anak Cina”, gua hanya
tersenyum. Lambat laun gua lebih banyak memiliki teman pribumi daripada
keturunan Tionghoa. Berlanjut sampai saat ini dimana gua kuliah di
Universitas Trisakti yang kini menjadi salah satu universitas terkenal
di Indonesia juga merupakan salah satu sumbangsih warga Tionghoa di
Indonesia. Pada tahun 1958, universitas ini didirikan oleh para
petinggi Baperki yang kebanyakan keturunan Tionghoa salah satunya
yaitu Siauw Giok Tjhan, pada tahun 1962 oleh Presiden Soekarno nama
universitas gua ini diganti menjadi Universitas Res Publika hingga
1965 dan sejak Orde Baru, universitas ini beralih nama menjadi
Universitas Trisakti hingga sekarang.

Gua tahu kalau mama gua masih dendam
dengan kaum pribumi. Tapi bagi gua ngga ada gunanya menyimpan dendam.
Bukankah memelihara dendam karena orang lain menyakiti hati kita adalah
seperti menelan racun sambil berharap orang lain yang akan mati. Bagi
gua kerusuhan mei 1998 bukan masalah kaum pribumi membenci keturunan
Tionghoa. Tapi individu-individu yang ‘kehilangan’ hati nuraninya. Bukan
tugas gua untuk menghakimi mereka. Kalau pun pemerintah tidak atau
belum mengambil tindakan apa-apa kepada para provokator alias biang
kerusuhan tersebut, ada Yang Maha Kuasa yang akan menghakimi dan
menghukum mereka kelak.
Hari ini gua bersama beberapa beberapa
teman gua berkumpul di rumah salah satu teman untuk mempersiapkan unjuk
rasa damai sebagai ketidaksetujuan kami akan niat Pastor Terry Jones
untuk membakar Al-Quran. Meski gua seorang nasrani tapi bukan berarti
gua setuju dengan tindakan Pastor Terry Jones.
Gua sering menemukan, kalau di satu
Gereja di luar Gereja Katolik. Kalau Gembala atau pendetanya keturunan
Tionghoa maka bisa dipastikan mayoritas jemaatnya adalah keturunan
Tionghoa juga dan sebaliknya. Tapi ngga semuanya loh! Kalau jalan ke
mal, gua juga akan menemukan hal yang sama. Gua kalo jalan-jalan ke
Taman Anggrek Mal, Citra Land, Puri Mall, Pluit Junction Mal atau
Centrak Park Mal , serasa ada di Singapura. Dimana-mana keturunan
Tionghoa. Berbeda kalau gua ke Pasar Tanah Abang, Blok M, Grand
Indonesia Mal, Pondok Indah Mal atau Cilandak Town square. Biasanya
penonton bioskop XXI dan Blitzmegaplex adalah keturunan Tionghoa, Bule,
Timur tengah atau India, jarang pribumi. Sementara bioskop 21 didominasi
oleh penonton kaum pribumi. Tanya kenapa? Gua juga ngga tau.
Sejujurnya gua rindu sosok seperti
Almarhum Gusdur yang tidak mempermasalahkan perbedaan. Bukan hanya
sekadar opini tapi dibuktikan dengan tindakan nyata. Ah, Siapa gerangan
yang akan tampil seperti sosok beliau?
“Eh, Cina! Ngapain loe ikut-ikutan?”
tanya salah seorang yang belum gua kenal. Mungkin dia temannya teman
gua. Atau anak dari kampus lain sehingga gua ngga mengenalnya demikian
juga sebaliknya.
” Asal loe tau aja, gua emang Cina! Tapi
gua orang Indonesia karena gua lahir di Indonesia. Dengar baik-baik,
orang Tionghoa yang berkewarganegaraan Indonesia digolongkan sebagai
salah satu suku dalam lingkup nasional Indonesia, sesuai Pasal 2 UU
Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia. Jadi
gua itu orang Indonesia!” ucap gua dengan tegas dan berusaha berbicara
dengan nada bersahabat.
Ah, gua kadang muak juga dibilang Cina!
Kenapa sih karena mata gua yang sipit, kulit gua yang putih dan rambut
gua yang lurus selalu jadi alasan kalo gua itu tetap Cina. Bukan
orang Indonesia. Secara fisik gua perhatikan, gua ngga ada jauh
bedanya ama pribumi seperti teman-teman gua adari suku Dayak atau
Manado! Kadang gua bertanya dalam hati, “apa salah gua kalo gua
terlahir sebagai keturunan Tionghoa dan besar di Indonesia?”
Ini bagian yang gua paling suka. Kalo ada
individu yang menyerang gua karena gua keturunan Tionghoa maka mulut
gua akan komat-kamit dengan sejarah.
“Loe kenal Soe Hok Gie yang ikut
mendirikan MAPALA UI? Dia menulis kritik-kritik yang keras
dikoran-koran, bahkan kadang-kadang dengan menyebut nama. Dia pernah
mendapat surat-surat kaleng yang antara lain memaki-maki dia sebagai
“Cina yang tidak tahu diri, sebaiknya pulang ke negerimu saja”. Dia
berjuang untuk Indonesia dengan caranya sendiri. Gie pernah mengatakan
patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan.
Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal
objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan
mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Dan itu yang gua
lakukan sekarang! Jadi jangan mempermasalahkan kehadiran gua disini
hanya karena gua keturunan Tionghoa.”
Gua diam. Ah… Kenapa banyak yang melihat fisik gua? Bukan patriotisme dalam diri gua?
Gua melangkah pergi lalu mencari ruang
untuk menyendiri. Air mata gua jatuh. Gua menangis bukan karena gua
sering dijuluki “si anak cina”.
Empat jam yang lalu.
“Michael… Hubungan kita harus berakhir!” ucap Amelia lewat handphone.
“Kamu ngga sedang bercandakan?”
“Aku serius!”
“Tapi kenapa? Kita sudah dua tahun jadian dan kita sudah saling mengenal antara satu sama lain.”
“Karena kamu cina dan aku pribumi!”
Ah…. Gua benci bagian ini. Keluarga
Amelia tidak bisa menerima gua hanya karena gua Cina. Sementara mama dan
keluarga gua ngga bisa menerima Amelia hanya karena dia pribumi meski
kami memiliki keyakinan yang sama.
Kenapa Tionghoa harus menikah dengan Tionghoa dan pribumi dengan pribumi?
Gua emang keturunan cina 100% karena kakek buyut gua datang langsung dari negeri bambu sono, tapi maaf, gua bukan orang orang
Cina karena gua lahir di Indonesia, gede, makan sampai buang hajat di
Indonesia. Darah gua merah, semerah darah orang Indonesia dan tulang gua
putih, seputih kaum pribumi.
Ngga ada yang salah, baik itu Cina, Jawa,
Batak atau suku lainnya. Otak kita semua yang salah. Mentang-mentang
ada orang Cina belagu sedikit, langsung dicap “Orang sipit begitu yee”,
padahal temen satu ras yang jauh lebih sombong didiemin saja…
Mentang-mentang pribumi itu malas “Orang sini kayak gitu yaa”, padahal
temennya satu ras yang jauh lebih malas ngga diapa-apa! Ini bukan
masalah Chinese, Batak, Ambon, jawa, atau suku… Ini masalah sifat dan
perilaku… Malas, sombong, mental kacung, dan sebagainya itu SIFAT, bukan
RAS… Orang Cina juga ada yang malas, orang pribumi juga ada yang rajin.
Ngga semua orang Cina itu kaya secara materi, ada kok yang menjadi
nelayan, petani, buruh bahkan pedagang kaki lima. Ngga percaya? Telusuri
aja di Bangka Belitung, Kalimantan seperti singkawang atau di daerah
Banten.



Pembedaan lain dari segi bahasa biasanya memakai istilah Cina totok dan Cina Peranakan. Cina peranakan adalah orang cina yang lahir di Jawa, tetapi tidak bisa berbahasa Cina, sedangkan Cina Totok adalah Orang Cina yang baru datang dari Cina dan tidak bisa berbahasa Indonesia.
Setahu gua juga, golongan Tionghoa turut memfasilitasi terjadinya Sumpah Pemuda, dengan dihibahkannya gedung Sumpah Pemuda oleh Sie Kong Liong dan ada beberapa nama dari kelompok Tionghoa sempat duduk dalam kepanitiaannya itu, antara lain Kwee Tiam Hong dan tiga pemuda Tionghoa lainnya.
Sin Po sebagai koran Melayu Tionghoa juga sangat banyak memberikan sumbangan dalam menyebarkan informasi yang bersifat nasionalis. Lagu Indonesia Raya yang diciptakan oleh W.R. Supratman pertama kali dipublikasikan oleh Koran Sin Po. Sebelumnya, Pada 1920-an harian Sin Po memelopori penggunaan kata Indonesia bumiputera sebagai pengganti kata Belanda inlander di semua penerbitannya. Langkah ini kemudian diikuti oleh banyak harian lain. Sebagai balas budi, semua pers lokal kemudian mengganti kata “Tjina” dengan kata Tionghoa. Pada 1931 Liem Koen Hian mendirikan PTI, Partai Tionghoa Indonesia dan bukan Partai Tjina Indonesia.
Pada masa revolusi tahun 1945-an kita menyaksikan perjuangan Mayor John Lie yang menyelundupkan barang-barang ke Singapura untuk kepentingan pembiayaan Republik. Selain itu ada pula tokoh lain seperti Djiaw Kie Siong memperkenankan rumahnya di pakai untuk rapat mempersiapkan kemerdekaan oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada tanggal 16 Agustus 1945. Di Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang merumuskan UUD’45 terdapat 5 orang Tionghoa yaitu; Liem Koen Hian, Tan Eng Hoa, Oey Tiang Tjoe, Oey Tjong Hauw, dan Drs.Yap Tjwan Bing. Liem Koen Hian meninggal dalam status sebagai warganegara asing, padahal ia ikut merancang UUD 1945. Dalam perjuangan fisik sebenarnya banyak pahlawan dari Tionghoa yang terjun namun sayangnya tidak banyak dicatat dan diberitakan. Tony Wen adalah orang yang terlibat dalam penurunan bendera Belanda di Hotel Oranye Surabaya.
Kita semua lahir di indonesia, tumbuh di
indonesia, dibesarkan di indonesia, makan dari hasil tanah indonesia,
bahasa yang kita pakai bahasa indonesia, tanah yang kita pijak tanah
indonesia, kita berwarga negara indonesia… Kenapa harus mempermasalahkan
Cina dan pribumi ?
Dari kejauhan gua mendengar sebuah lagu yang mengudara lewat radio.
Siapa tidak mengakui perbedaan
Tidak pernah diajari di skolahan
Semua orang macam2 diciptakan
Cakep atau jelek smua punya perasaan
Ada orang Batak, ada orang JawaTidak pernah diajari di skolahan
Semua orang macam2 diciptakan
Cakep atau jelek smua punya perasaan
Ada orang Ambon, ada juga orang Padang
Ada orang Menado, ada orang Madura
Ada orang Papua, nggak disebut jangan marah
* Apakah yang dapat menyatukan kita
salah satunya dengan musik
Dangdut is the music of my country
Reff :
Dangdut is the music of my country, my country, of my country
Dangdut is the music of my country, my country, of my country
Aaaaa, oh my country
Kalo ngaku ngerti tentang persatuan
Mengapa adu domba mudah dilakukan
Kenapa smua mudah hilang kesabaran
Kenapa smua mudah diprovokasikan
Ada kulit hitam, ada kulit putih
Ada rambut panjang, ada juga rambut keriting
Ada mata besar, ada mata sipit
Ada orang kaya ada juga orang miskin
Dalam hati, gua hanya bisa berteriak, “gua adalah orang Indonesia dan Indonesia ada dalam darah gua.”
sumber: http://sosbud.kompasiana.com/2010/09/11/emang-kenapa-kalo-gua-cina-loe-keberatan/

0 comments:
Post a Comment