Tulisan tentang Manusia dan Harapan
>> Sunday, July 8, 2012
“Orang bijak
selalu menemukan jalan untuk setiap persoalan yang dihadapinya.
Sementara orang bodoh selalu menemukan alasan untuk membenarkan dirinya
dalam setiap persoalan yang ada.”
Dewa Klasik Alexander
Wajahnya sering
merasakan panasnya terik matahari disiang bolong. Namun aku selalu
terpesona dengan kecantikannya yang alami. Senyuman manisnya selalu
menghiasi wajahnya. Senyuman yang membuat siapa pun setuju kalau dia
adalah gadis yang cantik. Tak ada yang istimewa dari penampilannya.
Namun siapa pun yang mengenalnya pasti mengetahui kalau dia bukan gadis
yang biasa-biasa saja. Aku sendiri bingung, kecerdasannya diatas
rata-rata dan wawasannya sangat luas meski usianya baru menginjak empat
belas tahun.
Namanya Sheila.
Nama yang sangat sederhana. Dia merupakan salah satu murid terpintar di
tempat aku mengajar. Tidak hanya pintar tapi juga rajin. Sehingga tidak
heran kalau banyak murid dan guru yang menyukainya.
Aku tidak pernah
menemukan dia bersenda gurau dengan teman-temannya sepulang sekolah.
Begitu bel berbunyi dia langsung berlari meninggalkan ruang kelas. Aku
selalu memperhatikan Sheila setiap pulang sekolah. Dia berlari dan terus
berlari sampai ke rumahnya. Dia tidak menghiraukan teriknya panas
matahari disiang bolong. Demikian juga dengan keringat yang bercucuran
diwajahnya. Baginya sepulang sekolah dia harus langsung bergegas pulang
ke rumahnya secepat mungkin.
Aku memutuskan
untuk mencari tahu penyebab Sheila selalu terburu-buru untuk pulang ke
rumahnya. Aku penasaran dengan tingkahnya itu. Ada apa gerangan?
******
Rabu, 18 Agustus 2010
Aku bersembunyi di
balik pagar tanaman yang mengelilingi rumah tua milik Sheila. Mungkin
lebih tepat disebut sebuah gubuk kecil yang sudah hampir roboh. Aku
mengetahui rumah Sheila setelah sehari sebelumnya aku mengikutinya dari
belakang tanpa sepengetahuannya. Dari tempat persembunyianku, aku
mendengar suara langkah kaki Sheila yang bergegas masuk kerumahnya.
Dengan gaya mirip seperti maling aku menghampiri rumah tua tersebut.
“Kak, kenapa bajunya kotor?”
“Tadi pagi di sekolah ada anak yang tidak sengaja …..”
“Aku ngga mau ke sekolah dengan baju kotor seperti ini,” potong suara tersebut dengan nada yang tinggi.
Aku mencoba melihat dari sela-sela dinding apa yang sedang terjadi.
“Sandra, jangan hanya karena noda baju itu kamu ngga mau sekolah.”
“Tapi kak…”
Hening. Tak ada suara.
“Aku capek setiap
hari menunggu kakak pulang sekolah. Sampai kapan aku harus memakai baju
sekolah kakak? Aku malu setiap hari hampir telat, kak. Kapan aku punya
seragam sendiri?”
“Sabar ya, kakak lagi ngumpulin duit biar kamu bisa punya seragam sendiri. Semuanya akan indah pada waktunya. Percayalah!”
“Kak, aku sudah ngga tahan seperti ini. Kalau bukan cita-citaku menjadi dokter mungin aku sudah menyerah.”
“Menyerah seolah-olah adalah pilihan terbaik tapi sebenarnya itu adalah kekalahan bagi kita. Tentu
saja, menyerah kelihatannya merupakan sebuah solusi yang terbaik
daripada melakukan sesuatu dengan resiko yang besar dan hasil yang tidak
jelas. Tapi ingatlah penderitaan dari kekalahan akan jauh lebih besar
daripada perjuangan untuk menyelesaikannya. Jangan pernah menyerah
karena orang tua kita tidak pernah mengajarkan itu kepada kita berdua. Mungkin kita miskin tapi kita harus percaya, orang miskin seperti kita juga punya hak untuk sukses. Seorang
yang akhirnya menjadi pemenang adalah seorang yang memutuskan untuk
menang. Berikan dalam kehidupanmu apa yang terbaik yang kamu bisa dan
kehidupan akan memberikan kembali hal yang terbaik padamu.“
Jantungku seperti
tertusuk benda tajam. Sekarang aku mengerti kenapa Sheila selalu
buru-buru untuk pulang ke rumahnya. Sandra, adiknya selalu menunggu
kepulangan Sheila. Menunggu untuk memakai seragam yang dikenakan oleh
Sheila. Sekarang aku juga baru tahu kenapa aku sering melihat
Sandrasering menerima hukuman dari guru yang mengajar dikelasnya.
Kini aku kembali
mendengar suara langkah kaki yang berlari. Sandra berlari sekuat tenaga
menuju ke sekolah agar tidak telat. Aku salut dengan Sheila dan Sandra
yang usia mereka terpaut satu tahun tersebut. Hari ini aku belajar satu
hal dari mereka, “Orang bijak selalu menemukan jalan untuk
setiap persoalan yang dihadapinya. Sementara orang bodoh selalu
menemukan alasan untuk membenarkan dirinya dalam setiap persoalan yang
ada.” Semangat mereka untuk bersekolah membuatku tambah bersemangat untuk mengajar tanpa pamrih.
*******
TAMAT
sumber: http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2010/08/25/semangat-sheila-dan-sandra-sebuah-kisah-motivasi-dan-inspiratif-untuk-anda/

0 comments:
Post a Comment